Paduan Suara: Sarana Revolusi Karakter Bangsa Berbudaya
Dua siswa Sekolah Menengah Kejuruan di Bogor tewas
akibat tawuran antarpelajar dalam sepekan (Liputan6.com, 2 November 2016)
Seorang pemuda diduga nekat perkosa wanita paruh
baya di masjid (suarantb.com, 21 Februari 2017)
Seorang pemuda berumur 18 tahun di Ciputat tega
bunuh ibu kandungnya (Metronews.com, 16 Februari 2017)
Apa yang Anda
rasakan setelah membaca headline berita
tanah air di atas sama dengan yang saya rasakan. Begitulah rona kelam pemuda
Indonesia beberapa bulan terakhir ini. Di samping pemberitaan prestasi beberapa
pemuda di bidang olahraga, sains dan seni, pemberitaan-pemberitaan di atas
justru lebih marak dan cukup memukul ruang di hati sanubari kita. Ada sesuatu
yang berubah dan ada sesuatu yang harus diubah. Terjadi kemerosotan moral dan
kita sebagai yang menyadarinya perlu melakukan sesuatu.
Revolusi
karakter menjadi bagian yang penting dalam upaya menghindari kejadian yang sama
di masa depan. Revolusi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti: 1)
perubahan ketatanegaraan (pemerintah atau keadaan sosial) yang dilakukan dengan
kekerasan (seperti dengan perlawanan bersenjata); 2) perubahan yang cukup
mendasar dalam suatu bidang; dan 3) peredaran bumi dan planet-planet lain dalam
mengelilingi matahari. Mari kita ambil istilah yang pertama saja, yaitu
perubahan ketatanegaraan, meliputi pemerintahan dan keadaan sosial (yang jika
perlu) dengan kekerasan. Kata ‘dengan kekerasan’ ditambahkan berkaitan dengan
sejarah revolusi beberapa negara di dunia termasuk Indonesia, yang dikenal
dengan nama Revolusi Nasional Indonesia (17 Agustus 1945 – 27 Desember 1949).
Revolusi juga dikaitkan dengan perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung
secara cepat dan bersifat relatif. Karakter bangsa Indonesia sejatinya
berasaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Nilai-nilai baik bangsa
Indonesia juga terkandung dalam berbagai budaya dan adat istiadat leluhur yang
diwariskan termasuk tata bahasa, busana dan keseniannya.
Presiden Jokowi
dalam nawa citanya menyebutkan bahwa salah satu prioritas jalan perubahan
menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri secara ekonomi
dan berkepribadian dalam kebudayaan ialah dengan melakukan revolusi karakter
bangsa. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pengajaran sejarah pembentukan
bangsa, nilai-nilai patriotisme, cinta tanah air, semangat bela negara dan budi
pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Pendidikan yang dimaksud dapat
berupa pendidikan formal ataupun pendidikan nonformal.
Salah satu
sarana pendidikan karakter untuk memupuk pemuda menjadi manusia berbangsa dan
berbudaya ialah melalui paduan suara. Paduan suara atau koor seringkali dipandang sebelah mata karena yang tampak dari luar
adalah hanya sekelompok orang yang hobi menyanyi. Padahal banyak sekali hal
positif yang dapat ditanamkan dalam pelatihan paduan suara, khususnya paduan
suara siswa atau mahasiswa. Selain karena jumlah anggotanya relatif banyak,
minat terhadap seni suara ini semakin hari semakin tinggi. Dalam 10 tahun
terakhir, peningkatan signifikan terlihat dari semakin banyaknya prestasi
tahunan yang diraih paduan suara Indonesia di kancah internasional, baik paduan
suara anak-anak, siswa, mahasiswa hingga paduan suara dewasa profesional.
Keterlibatan kelompok paduan suara dalam perlombaan nasional dengan berbagai
rentang usia juga semakin meningkat.
Pendidikan
karakter di paduan suara, khususnya paduan suara siswa dan mahasiswa, pertama
kali dikenalkan melalui pelatih. Peran pelatih berpengaruh besar dalam
menanamkan sikap-sikap dan budaya-budaya baik dalam paduan suara yang
dipimpinnya, seperti budaya disiplin, komitmen, komunikasi yang baik, dan
berbusana yang baik. Dalam paduan suara, budaya disiplin mengajarkan untuk
selalu datang latihan tepat waktu dan berhenti sejenak saat waktu beribadah.
Budaya komitmen mengajarkan semangat kebersamaan untuk datang latihan sesuai
jadwalnya sehingga dapat menghasilkan suatu pertunjukkan yang memukau. Budaya
komunikasi yang baik mengajarkan kejujuran dalam pergaulan yang dibarengi
dengan tutur kata yang sesuai dan budi pekerti, baik untuk junior, sesama
ataupun senior. Berbusana yang baik megajarkan untuk selalu dapat menempatkan
diri dimanapun berada sesuai dengan norma kesopanan, sehingga menimbulkan
kenyamanan satu sama lain. Semua budaya baik di atas mengarah kepada saling
menghormati antar sesama. Umumya paduan suara yang sukses setidaknya memiliki
keempat aspek budaya tersebut, selain dari kemahiran menyanyinya.
Menyanyi di
paduan suara bukan hanya sekedar mengeluarkan bunyi yang unison, harmoni atau
disonan. Bukan juga hanya sekedar bernyanyi yang baik sesuai partitur, dinamika
dan arahan pelatih dan dirigen, tetapi bagaimana agar suara yang dihasilkan
dapat menyentuh hati pendengar. Oleh karena itu, pengenalan lagu, arti lagu dan
maknanya menjadi penting dilakukan. Pelatih di sini berperan dalam pengenalan
terhadap lagu dari berbagai zaman, genre dan asal daerah.
Mengenal dan
memahami suatu lagu asli Indonesia sama dengan mengenal sejarah dan memupuk
rasa cinta terhadap tanah air. Lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan W. R.
Supratman mungkin bagi sebagian besar penduduk di Indonesia, terdengar biasa
saja atau hanya sekedar lagu formalitas upacara bendera. Tetapi coba bayangkan,
seolah-olah kita menyanyikannya saat sangsakala merah putih pertama kali dikibarkan
di bumi pertiwi. Tentu akan menambah jiwa dalam syair dan lagu yang dinyanyian.
Lebih dahsyatnya, lagu ini dapat meneteskan air mata mereka yang tengah
berjuang untuk Indonesia.
Selain Indonesia
Raya, berikut beberapa lagu nasional bernafas kebangsaan yang sering
dinyanyikan oleh paduan suara, diantaranya ialah Tanah Airku ciptaan Ibu Sud,
Maju Tak Gentar ciptaan C. Simanjuntak, Bangun Pemudi Pemuda ciptaan A.
Simanjuntak, Indonesia Pusaka dan Rayuan Pulau Kelapa ciptaan Ismail Marzuki,
Padamu Negeri ciptaan Kusbini, serta Nyiur Hijau ciptaan Maladi. Kekuatan lirik
dari irama yang semangat serta kekhidmatan dari lagu-lagu nasional mampu
membangkitkan dan menyampaikan pesan kebinekaan, khususnya bagi penyanyi di
paduan suara, umumnya bagi yang mendegarkan.
Pengenalan
terhadap kesenian dan kebudayaan dapat disampaikan melalui lagu-lagu daerah dari
berbagai suku dan pulau di Indonesia. Lagu daerah Indonesia jumlahnya sangat
banyak dan komposisi paduan suaranya semakin hari semakin beragam, bahkan
banyak di antaranya yang dibawakan di perlombaan paduan suara tingkat
internasional. Hampir jarang rasanya suatu paduan suara bernyanyi lagu daerah
tanpa iringan dan gerakan. Siapa yang tidak tahu lagu Sik Sik Sibatumanikam
dari Sumatera Utara, Bungong Jeumpa dari Aceh dan Yamko Rambe Yamko dari Papua.
Biasanya ketiganya dibawakan dengan koreografi, namun menyesuaikan dengan
konteks dari lagunya. Kembali lagi, konteks lagu berkaitan dengan pemahaman
makna dan budaya yang menyertai diciptakannya lagu tersebut. Koreografi untuk
lagu Sik Sik Sibatumanikan umumnya berupa gerakan tangan-kaki sederhana dan
ringan sesuai dengan bagaimana kebiasaan orang Batak menari. Lagu Bungong
Jeumpa umumnya tidak jauh dari gerakan tari saman, sementara lagu Yamko Rambe
Yamko biasanya lebih lincah gerakannya ditambah pemakaian beberapa alat musik
tabuh, disuasanakan seperti kehidupan dan tarian asli rimba Papua. Disamping itu,
ada pula lagu daerah yang memang tidak membutuhkan keriuhan dan tarian,
melainkan kekhidmatan seperti lagu mengenai kecintaan kepada Ibu, O Ina Nikeke
dari Sulawesi Utara dan lagu tentang keindahan bulan, Bubuy Bulan dari Jawa
Barat.
Koreografi dan
kostum (wardrobe) yang sesuai dalam
paduan suara menambah daya tarik bagi penontonnya. Penonton awam juga terkadang
tergugah rasa ingin tahunya karena banyak diantaranya bahkan baru mendengar suatu
lagu pertama kali di konser paduan suara. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa
melalui pertunjukkan paduan suara, dapat terjadi transfer ilmu mengenai
kebudayaan daerah serta meningkatkan rasa peduli serta cinta tanah air. Oleh
karena itu, dalam mempersiapkan suatu pertunjukkan paduan suara perlu dilakukan
usaha yang sungguh-sungguh, baik dari pelatih maupun para penyanyinya.
Pertunjukan yang
baik perlu organisasi yang baik pula. Pertunjukan paduan suara, seperti
contohnya paduan suara mahasiswa, dilaksanakan dan diorganisasi oleh anggota
dari paduan suara itu sendiri. Kebutuhan koreografi dan kostum dalam paduan
suara secara tidak langsung mengasah kreativitas dari anggotanya. Saat dalam
kondisi kekurangan pendanaan, beberapa di antaranya akan ada yang berperan
sebagai negosiator dan beberapa menjadi penggiat ide agar dapat mengumpukan
sedikit demi sedikit dana melalui usaha berjualan atau mengamen. Secara tidak
langsung, keorganisasian paduan suara akan mengasah kemampuan komunikasi,
keberanian dalam menyampaikan pendapat dan ide, juga rasa rela berkorban dalam
memegang komitmen untuk mensukseskan tujuan bersama. Paduan suara juga
mengajarkan para pemuda untuk menghargai dan menikmati suatu proses secara
bersama-sama, tidak hanya berorientasi dengan hasil saja. Hal ini akan menjadi
bekal dalam upaya menanamkan budaya-budaya baik bagi generasi penerus bangsa
yang produktif.
Keragaman budaya
melalui suatu pertunjukkan paduan suara sering mendapat perhatian dari para
pemerhati seni suara di luar negeri. Beberapa paduan suara mahasiswa terkadang
diundang dalam suatu konser kolaborasi atau konser tunggal di Amerika Serikat
dan Jepang. Sebut saja undangan dari The
2016 Western Division, American Choral Director Association (ACDA) di
Pasadena, California, Amerika Serikat untuk Maranatha Choir dan Okayama Prefectural University untuk Paduan
Suara Mahasiswa Universitas Hasanuddin. Undangan tersebut menjadi ajang paduan
suara dalam menyampaikan sekaligus mempromosikan misi kebudayaan Indonesia
untuk dunia.
Bernyanyi di
paduan suara mengajarkan para pemuda untuk ikut serta dalam menyampaikan misi
perdamaian melalui vokalisasi musik. Musik adalah bahasa yang universal dan
tersampaikan maknanya melalui perasaan. Suku, budaya, tradisi, paham, agama,
dan ideologi menjadikan kita berbeda, namun beberapa bait nyanyian paduan suara
dapat menyatukan semua. Harapannya, dengan pemuda aktif dan bertumbuh kembang
di lingkungan yang positif seperti paduan suara, kejadian-kejadian tidak
diinginkan akibat kebejatan moral tidak terjadi lagi.
*Ini merupakan artikel yang belum pernah terbit dimanapun
** Foto dalam artikel ini diambil saat PSM IPB Agria Swara (dimana saya juga berada di dalamnya) sedang mengikuti kompetisi di Irlandia Utara.
*** Pengalaman paduan suara lainnya bisa dilihat di spotofmylife.blogspot.co.id (blog saya yang gabisa kebuka lagi karena lupa pakai email yang mana hahaha)
Enjoy!



Komentar
Posting Komentar